Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra
Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Pembelajaran apresiasi sastra pada hakikatnya merupakan

Upaya untuk menanamkan rasa peka kepada siswa terhadap cita rasa sastra. Seharusnya pengajaran apresiasi sastra yang disampaikan guru kepada siswa mampu mengubah sikap siswa dari acuh tak acuh menjadi lebih bersimpati terhadap sastra. Karena materi sastra yang disuguhkan tidak sekadar representation of life (Imitation of life) melainkan interpretation of life (Endraswara, 2002: 7). Dengan demikian, karya sastra harus dipahami sebagai fenomena yang tidak hanya sekedar memuaskan emosi melainkan memercikkan ide-ide dan pikiran. Karya sastra sebagai salah satu kebutuhan manusia menawarkan kisi-kisi kemanusian yang indah menuju kesempurnaan hidup.

Kenyataan lain membuktikan bahwa yang menjadi kendala pembelajaran

Apresiasi sastra di sekolah adalah pemanfaatan buku yang tersedia di perpustakaan yang bergenre sastra belum maksimal. Sehingga minat belajar siswa khususnya minat membaca masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru ikut menjadi penyebab dalam hal ini. Berbagai kendala di atas menyebabkan pembelajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Pada akhirnya, tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada siswa belum menggembirakan.

Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra.

Prinsip-prinsip tersebut adalah: (1) pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa, (2) pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa, (3) pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra, dan (4) pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.

Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: dilihat secara umum dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa: (a) memperoleh pengalaman bersastra, dan (b) memperoleh pengetahuan sastra. Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra, mendengarkan pembacaan karya sastra, menonton pementasan sastra. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi, cerpen, dialog), berdeklamasi, mementaskan drama, dan lain-lain. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut.

Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran

Apresiasi sastra. Tujuan untuk memperoleh pengetahuan sastra dilakukan tidak secara teoritis. Pengetahuan itu diajarkan bertolak dari pengalaman berapresiasi. Misalnya, dengan melalui puisi yang dibaca siswa, dijelaskan ciri-ciri puisi. Demikian pula halnya dengan ciri-ciri prosa dijelaskan setelah siswa membaca cerpen atau novel. Begitu pula dengan sejarah sastra. Sejarah sastra dimaksudkan berkaitan dengan apresiasi yang dilakukan terhadap karya sastra (puisi, prosa, dan drama). Dengan demikian tujuan pembelajaran sastra yang seperti ini, bagaimanapun perubahan kurikulum akan tetap diikuti serta ditemukan pertaliannya dengan tujuan pengajaran sastra secara umum.

Tujuan yang kedua dalam pembelajaran sastra secara khusus dapat dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Pembelajaran sastra dalam kurikulum dikaitkan dengan kecakapan hidup siswa terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan rumah tangga, kecakapan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kecakapan berkomunikasi, pemilikan kesadaran pribadi dan rasa percaya diri, kemampuan menghindari stres, kemampuan membuat keputusan, kecakapan menjalin hubungan antarpribadi, pemahaman terhadap berbagai jenis pekerjaan, dan kecakapan vokasional serta pemilikan sikap positif terhadap kerja perlu dipupuk dan dikembangkan secara terpadu dan berkelanjutan, serta dinilai.

Untuk mengantisipasi kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran sastra dan bahasa pada umumnya diberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan guru. Rambu-rambu tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap budaya masyarakat, dan lingkungan hidup.
  2. Perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra harus seimbang dan dapat disajikan secara terpadu. Misalnya, wacana sastra dapat digunakan sekaligus sebagai bahan pembelajaran bahasa.
  3. Bahan pembelajaran pemahaman adalah mendengarkan dan membaca berlingkup pada pengembangan kemampuan menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan, serta mengapresiasikan karya sastra Indonesia, sastra daerah, dan sastra asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama, termasuk cerita rakyat.
  4. Bahan pembelajaran penggunaan adalah berbicara dan menulis yang berlingkup pada pengembangan kemampuan pengungkapan gagasan, pendapat, dan perasaan.
  5. Sumber belajar siswa dapat berupa buku-buku yang diwajibkan, media cetak, media elektronika, lingkungan, narasumber, pengalaman dan minat anak, serta hasil karya siswa.

Selanjutnya, untuk mencapai tujuan pembelajaran sastra, materi sastra yang akan digunakan dalam pembelajaran sastra tentulah materi yang dipilih guru dan sesuai dengan kriteria yang layak untuk anak didik. Kriteria karya sastra yang layak digunakan guru adalah karya yang dipilih berdasarkan atas berbagai pertimbangan baik segi bahasa maupun segi kejiwaan. Pertimbangan segi bahasa berdasarkan atas keterbacaan bahan ajar bagi siswa. Karya sastra yang akan diajarkan dapat dipahami siswa karena bahan tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka sehingga karya tersebut dapat dipahami.

Bahan pembelajaran sastra harus sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan

Siswa. Moody mengemukakan tahap perkembangan anak dalam menggeluti karya sastra sebagai berikut.

  1. Tahap autistik (the austistic stage) usia 8-9 tahun. Pada tahap ini imajinasi anak belum mengarah kepada kehidupan nyata, tetapi masih pada tahap dunia fantasi.
  2. Tahap romantis (the romantic stage) usia 10-12 tahun. Pada tahap ini siswa berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah-kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata.
  3. Tahap realistis (the realistic stage) usia 13-16 tahun. Pada tahap ini anak mulai berpikir realistis. Pernyataan-pernyataan sepertiBenarkah terjadi?,Bagaimana hal itu terjadi? Bagaimana ia melakukannya?, dan sebagainya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul yang memperlihatkan bagaimana perkembangan ke arah kehidupan nyata mulai berkembang.
  4. Tahap generalisasi (the generalizing stage) usia lebih dari 16 tahun. Pada tahap ini siswa tidak hanya berminat pada hal-hal yang detil tetapi juga sudah mengarah pada berpikir abstrak, menggeneralisasi fenomena-fenomena kehidupan yang dialaminya, menentukan moral, dan secara umum berpikir secara filosofis (1974:17).
  5. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/

.

Siswa yang termasuk dalam tahap usia autistik dan romantis, yaitu pada tahap dunia fantasi atau imajinasi, khayalan masih dominan dan berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata. Mereka masih sulit berpikir secara realistis dan belum mampu menggeneralisasikan permasalahan yang dihadapinya. Mereka masih kurang mampu berpikir secara abstrak, dan masih sulit menentukan sebab akibat dari suatu gejala. Aspek pedagogis dalam pemilihan materi sastra sangat diperlukan. Aspek ini dapat dilihat dari segi moral yang dibicarakan dalam karya sastra, sikap, budi pekerti, perilaku yang positif, dan mengarah kepada pembentukan kepribadian siswa yang positif.