Menggagas Doa Advokasi

Menggagas Doa Advokasi

Menggagas Doa Advokasi

Menggagas Doa Advokasi
Menggagas Doa Advokasi

Menurut Mahatma Gandhi, tiga Guru Agung umat manusia yakni Budha, Yesus dan Muhammad telah memberi kesaksian yang tak tersangkal bahwa cahaya dan inspirasi telah mereka peroleh dari doa. Jelas pula bahwa tanpa doa hidup mereka merupakan sesuatu yang mustahil.

Begitu pula dengan masyarakat Jawa Timur yang dikenal sebagai masyarakat religius. Berdoa adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Di tengah-tengah keruwetan sosial-ekonomi-politik yang terjadi, terdapat beberapa fenomena yang menarik untuk dicermati dalam skala regional khususnya dalam hal berdoa.

Momentum pilkada, yang telah maupun yang akan terjadi, di beberapa kabupaten/kota dan propinsi, telah memberikan peluang bagi para politisi untuk menarik perhatian massa dengan menghadiri acara-acara doa yang bersifat seremonial. Bagi mereka, ini adalah kesempatan emas untuk memperoleh dukungan massa secara simpatik. Tanpa segan mereka berbaur bersama massa, ikut larut dalam kehusyu’an acara maulidurrasul, haul akbar, istighotsah kubro yang diselenggarakan oleh masyarakat. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak hanya menghadiri tapi juga memberikan dukungan keuangan untuk acara-acara seperti ini.

Beberapa hari yang lalu korban lumpur Lapindo juga melakukan istighotsah bersama memperingati satu tahun kepedihan nasib mereka. Aksi ini diikuti oleh warga masyarakat di daerah lainnya di masjid, musholla, bahkan di makam-makam wali songo sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan atas musibah yang menimpa saudara-saudara mereka di Sidoarjo.

Serasa tidak mau kalah, hal serupa dilakukan oleh warga stren kali di Surabaya. Dalam rangka menghadapi pembahasan Raperda Stren Kali mereka berkumpul melakukan Doa Bersama untuk mendoakan para anggota dewan yang terhormat agar memperhatikan aspirasi mereka untuk tetap tinggal dengan penataan yang diperlukan. Mereka tidak hanya ingin doanya didengarkan tetapi mereka ingin sebuah perubahan kebijakan (advokasi).

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, berdoa bukan sekedar permintaan ataupun permohonan manusia (makhluk) kepada Tuhan (khalik) belaka. Pada model pertama (doa politik), aktivitas berdoa yang dilakukan tidak lebih dari “hasil perselingkuhan” antara kepentingan para politisi dan panitia penyelenggara acara – yang menjadikan tawaran bantuan yang menggiurkan dan jumlah massa yang banyak, sebagai sarana negoisasi dan transaksi. Akibatnya kekhusyuan dan keikhlasan jama’ah dalam berdoa telah “ternodai” dan dimanipulasi demi kepentingan sesaat segelintir orang saja.

Pada model kedua (doa keprihatinan), doa bersama menjadi alat perenungan atas segala musibah, cobaan, dan bencana yang telah terjadi. Tuhan menjadi sandaran terakhir ketika penanganan lumpur belum membuahkan hasil, negoisasi ganti rugi yang masih alot, dan nasib warga yang semakin terkatung-katung. Pada model ini susah dibedakan antara kepasrahan dengan keputusasaan, ketabahan dengan kekalahan.

Pada model ketiga (doa advokasi), doa bersama tidak hanya sekedar menjadi “hasil perselingkuhan” dan “alat perenungan” belaka. Berdoa bukanlah wujud kekalahan dan kepasrahan warga pada nasib. Dalam perspektif ini berdoa bukanlah akhir dari sebuah proses perjuangan namun justru sebagai langkah awal yang mampu memberi inspirasi dan energi bagi gerakan untuk merubah kebijakan.

Sebagaimana telah diungkap oleh Mahatma Gandhi, para aktor pemberdayaan masyarakat dan aktivis gerakan perlu mendorong munculnya berbagai do’a advokasi sebagai hasil reinterpretasi kreatif dari doa yang semula hanya bersifat manipulatif dan reflektif menjadi doa yang mempunyai kekuatan transformatif. Relijiusitas harus menjadi energi bagi transformasi sosial. Sebab bila tidak, agama hanya akan menjadi candu yang memabukkan masyarakat seperti telah disinyalir oleh Karl Marx satu setengah abad silam.

Ada beberapa aspek penting yang ingin diraih melalui doa advokasi : penyatuan pengorganisasian (unity organising), penguatan peran tokoh-tokoh informal, dan peningkatan kesadaran (awareness raising). Atas nama ketundukan manusia kepada Tuhannya, semua orang dari segala kepentingan bisa diajak berdoa, sehingga terjadi penyatuan pengorganisasian (unity organising).

Dalam pengorganisasian masyarakat, ini merupakan fase krusial yang harus dilewati. Selanjutnya akan muncul tokoh-tokoh informal yang “tak terpikirkan” sebelumnya untuk tampil lebih aktif dalam men-support gerakan rakyat seperti kyai-kyai kampung atau imam musholla. Sebelumnya mereka tidak bisa berpartisipasi dalam gerakan karena keterbatasan pemahaman yang mereka miliki. Ada keinginan tapi susah mengaktualisasikannya. Doa bisa menjadi sarana penguatan peran tokoh-tokoh informal karena bisa membuka kran partisipasi mereka.

Ketika masyarakat sudah berada dalam satu pengorganisasian bersama tokoh-tokoh informal mereka maka inilah saat yang tepat untuk melakukan peningkatan kesadaran kritis masyarakat. Musibah, bencana, dan penggusuran bukan semata takdir Tuhan. Selama ini, pasti ada yang salah pada sistem politik , struktur sosialmaupun pola pengambilan kebijakan kita. Semua harus dirubah ke arah yang lebih baik, yang lebih menyejahterakan masyarakat.

Doa advokasi pulalah, seharusnya, yang mengiringi kepergian 4 korban kebrutalan TNI AL di Alastlogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan. Terlalu mahal bagi negara bila membiayai para anggota DPR-RI yang hadir hanya untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka harus berpikir serius tentang reformasi di tubuh militer yang menjadi cita-cita reformasi sejak 9 tahun yang lalu. Terlalu naïf bagi pemerintah lokal (Pemkab Pasuruan) maupun regional (Pemprov Jatim) bila mereka hanya turut berduka cita dengan membayar seluruh biaya pemakaman korban dan menanggung biaya hidup para ahli warisnya.

Mereka harus menjadi fasilitator bagi kepentingan rakyatnya yang didzolimi dan memberikan jaminan rasa aman bagi masyarakat bahwa kejadian serupa tidak akan terulang kembali. Terlalu sering bagi tokoh-tokoh agama bila sekedar menjadi pemimpin do’a bersama maupun ziarah kubur. Mereka harus menjadikan peristiwa ini sebagai momentum peneguhan peran mereka di masyarakat. Mereka harus membuktikan dirinya sebagai pelayan ummat sejati (khadamul ummah), yang melihat ummatnya dengan penglihatan kasih sayang (yandzuruuna ilal ummah bi’anirrahmah).

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/

Author: ixa8f