Membiasakan Chindogu di Indonesia

Membiasakan Chindogu di Indonesia

Membiasakan Chindogu di Indonesia

Membiasakan Chindogu di Indonesia
Membiasakan Chindogu di Indonesia

Dosen Teknik Industri di Universitas Trunojoyo sedang ambil master di Melbourne Uni.
Waktu jalan-jalan ke perkampungan blog, aku nemu sebuah tulisan yang menarik tentang Chindogu. Makanan apaan tuh?, … sabar, itu bukan makanan, itu adalah sebuah seni yang menurut wikipedia memiliki pengertian sebagai berikut:

Chindōgu (珍道具) is the Japanese art of inventing ingenious everyday gadgets that, on the face of it, seem like an ideal solution to a particular problem.
Arti bebasnya adalah, sebuah seni untuk mencipta benda sehari-hari untuk mengatasi masalah sehari-hari yang ringan. Contoh gampangnya dapat dilihat dari gambar-gambar berikut :

cindogu 1 Pernah kena gatal di punggung kan?, mau menggaruk sendiri rasanya kurang puas. Minta tolong digarukkan orang lain, susah sekali untuk memberitahu titik koordinat punggung yang gatal itu secara tepat. Salah-salah mulu …. bukannya bikin enak malah bikin geli atau bete 🙂

Solusi cerdas dari Chindogu adalah dengan memakai kaos yang ada grid-nya setiap grid punya koordinat. Abjad di sumbu X dan angka di sumbu Y, mirip dengan dengan koordinat grid di papan catur. Dengan memegang model kaos ber “grid” di tangan, titik yang gatal bisa dengan mudah di locate koordinatnya untuk kemudian diberitahukan pada si penggaruk. Kemudian si penggaruk tinggal menggaruk saja titik di koordinat yang diberikan. Cerdas bukan?

cindogu 2

Ayo tebak!! Ada yang tahu apakah Chindogu di samping ini ?, lem atau crayon ? …… bukan teman-teman … itu adalah mentega yang dikemas dan dibentuk jadi seperti glue stick yang sudah biasa kita kenal itu. Tujuannya …. ya supaya lebih praktis, bersih, dan tidak memerlukan pisau. Dengan dikemas seperti itu tentu saja ia bisa dibawa kemana-mana. Lagi-lagi cerdas kan?

cindogu 3

Ini contoh yang terakhir, yang mau saya perlihatkan di sini. Contoh ini dari blog yang menginspirasi saya menulis posting ini. Pernah ketemu kecoa yang menjengkelkan, jelek imut, item, berkeringat (halah nglantur) yang bikin kita pingin nginjek?. Mau nginjek …. tapi takut dia merambat ke atas ke kaki kita. Tenang saja, orang Jepang telah menemukan solusinya. Sebuah sandal yang punya gagang !!. Gagang bisa ditarik memanjang kalau diperlukan dan bisa dipendekkan kalo lagi dipakai ….. lagi-lagi sebuah pemikiran sinting yang mengagumkan.

Nah ini baru bagian mimpinya, andaikata anak-anak kita dibiasakan untuk “mengkhayal” seperti ini, apa kita bisa menjadi bangsa yang kreatif di kemudian hari ya? ….. menurutku sih bisa. Membiasakan berpikir seperi orang Jepang ini, menurutku akan membuat kita semakin kreatif dan kreatif. Terbiasa mencipta sesuatu dan memberi nilai tambah atas apa yang telah ada. Sehingga generasi kita bisa juga membanggakan diri sebagai generasi yang juga mewariskan sesuatu buat anak cucu. Bukan generasi yang hanya bisa membanggakan kekayaan warisan terdahulu (inget kemarahan sebagian besar bangsa kita saat Malaysia mengklaim batik, kebaya, reog, kuda lumping, de el el sebagai milik mereka). Apalagi asal mencuri seperti yang dilakukan bangsa tetangga yang sangat sombong itu. Dengan membudayakan kreatifitas ala Jepang ini sebagai pola pikir generasi kita, kita bisa terus dan terus menjadi bangsa yang besar dan hebat.

Kita nggak perlu malu untuk mencontoh orang lain yang baik …. asal nggak diaku-aku kalo itu murni dari kita. Peninggalan bangsa kita yang adiluhung de el el. Tapi dengan terhormat dan penuh rasa terima kasih kita hargai asal muasal budaya ini.

Mewujudkan gagasan ini, Pilihan praktisnya ada beberapa:

Membuat lomba-lomba menciptakan alat-alat semacam ini.
Memasukkannya dalam kurikulum resmi pendidikan kita.
Mengandalkan keluarga-keluarga Indonesia untuk bisa mendidik anaknya bermental kreatif begitu.
Lomba, kalau tidak ada iming-iming hadiah yang besar dan bergengsi ….. kemungkinan besar akan tidak akan diminati, lagian menurutku sifatnya sangat temporer dan tidak sampai merasuk sukma bangsa kita. Lihat saja pembinaan sepak bola, meski sudah diadakan lomba-lomba secara kontinu, uang triliunan dikucurkan, tetap saja, tidak menonjol prestasinya. Bagi orang kita sepak bola hanya sesedar hiburan (bagi penonton) dan cari nafkah (bagi pemain), bukan arena pembangunan manusia dan karakter indonesia.

Pilihan kedua sama rumitnya, menggodok kurikulum itu memakan waktu yang lama dan tidak bersih dari berbagai kepentingan kelompok. Mengharapkan orang-orang elite depdiknas mendengarkan ide ini saja sama seperti bermimpi di siang bolong. Ide yang ketiga lebih-lebih lagi ….. seperti mengharap sinetron dihapuskan dari bumi Indonesia.

Lha terus harus bagaimana dong ? Ya seperti saya ini … saya tulis di blog he h ehe. … siapa tahu ada orang diknas, menteri atau presiden sendiri yang baca terus memasukkannya dalam kebijakan kurikulum, atau ide-ide ini dibaca banyak orang tua yang akhirnya terinspirasi dan menstimulus anaknya untuk “ngiri” pada budaya Jepang yang satu ini.

Andai saya adalah presiden, maka akan saya wajibkan:

Setiap anak SD untuk membuat sebuah chindogu untuk syarat kelulusannya.
Setiap anak SMP untuk membuat 2 buah chindogu untuk syarat kelulusannya.
Setiap anak SMA untuk membuat 3 buah chindogu untuk syarat kelulusannya.
Setiap mahasiswa untuk membuat 4 buah chindogu untuk syarat kelulusannya.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/