Macam-macam Qardh

Macam-macam Qardh

Macam-macam Qardh

Macam-macam Qardh

Qardh dapat dikelompokkan menjadi tiga komponen, yaitu: dilihat dari segi subjectnya (pemberi hutang), dari segi kuat lemahnyabukti, dan dari segi waktu pelunsannya.

Dilihat dari pihak pemberi hutang menurut ulama fiqh hutang dapat dibedakan atas:

  1. Hutang kepada Allah ialah hak-hak yang wajib dibayarkan oleh seseorang karena perintah Allah kepada orang-orang tertentu yang berhak menerimanya. Yaitu apa yang diberikan oleh seseorang muslim untk membantu saudarnya untuk tanpa mengharapkan balasan di akhirat nanti. Hal ini mencakup infaq untuk berjihad, infaq untuk anak yatim, infaq untuk orang-orang jompo, dan infaq untuk orang-orang miskin. Jenis ini telah disebutkan di dalam Al-Quran dengan kata al-qardh.
  2. Hutang kepada sesama manusia ada yang dikaitkan rungguhan (jaminan) tertentu, dan hak orang yang berpiutang itu diambilkan dari rungguhan tersbebut, jika orang yang berutang tidak mampu membayarnya.

Para ulama  berbeda pendapat dalam mendefenisikan ini. Madzhab Abu Hanifah berkata, “pinjaman yang diperbolehkan adalah sesuatu yang mempunyai persamaan yang mungkin dapat digantikan dengan sesuatu yang serupa, akan tetapi menyangkut barang-barng bernilai seperti hewan, property, kayu bakar dan segala sesuatu yang tidak mungkin di temukan barang yang serupa dan persis dengannya waktu pengembalian barang pinjaman tersebut, maka tidak boleh dipinjamkan

  1. Dilihat dari segi kuat atau lemahnya pembuktian kebenarannya dan dapat dibedakan atas:
  2. Hutang piutang yang kebenarannya dapat dibuktikan dengan surat keterangan atau pernyataan tertulis, dan pengakuan yang jujur dari orang yang berutang, baik ketika dia sedang dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit yang belum terlalu parah
  3. Hutang piutang yang hanya didasarkan atas pengakuan dari orang yang berutang ketika dia sedang sakit parah yang beberapa saat kemudian meninggal, atau pengakuan yang diucapkan ketika dia akan menjalani hukuman (hukuman mati) dalam tindak pidana pembunuhan.
  4. Dilihat dari segi waktu perlunasannya dibedakan atas:
  5. Hutang piutang yang sudah tiba waktu pelunasan atau hutang yang sudah jatuh tempo sehingga harus dibayar dengan segera.
  6. Hutang piutang yang belum jatuh tempo dan tidak mesti dibayardengan segera.

Menurut ulama selain malikiyah, waktu pengembalian harta pengganti adalah kapan saja terserah kepada si pembeli pinjaman, setelah sipeminjam menerima pinjamannya. Karena qardh merupakan akad yang tidak mengenal batas waktu. Sedangkan menurut Malikiyah, waktu pengembalian itu adalah ketika sampa pada batas waktu pembayaran yang sudah ditentukan diawal. Karena mereka berpendapat bahwa qardh bisa dibatasi dengan waktu.


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/

Author: ixa8f