Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan

Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan

Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan

Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan
Maba Bidikmisi UNAIR Ciptakan Kemasan Alternatif Ramah Lingkungan

Diterima menjadi bagian dari mahasiswa Universitas Airlangga menjadi kebanggan tersendiri bagi Siti Nur Kholisah. Gadis kelahiran Lamongan, 19 Januari 2001 itu, menjadi salah satu dari ribuan mahasiswa baru UNAIR tahun 2019 yang diterima dengan bantuan biaya pendidikan Bidikmisi dari Kemristekdikti.

Siti berhasil diterima di UNAIR melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan

Tinggi Negeri (SNMPTN). Di UNAIR, Farmasi menjadi program studi pilihannya. Pilihan ini bukan tanpa sebab. Saat masih duduk di bangku SMA, Siti menciptakan inovasi yang kemudian mengantarkannya menjadi bagian dari mahasiswa UNAIR. Pada jalur SNMPTN, salah satu pertimbangan penilaian adalah nilai rapor dan prestasi saat duduk di bangku SMA.

Siti Nur Kholisah menciptakan inovasi kemasan alternatif pengganti styrofoam yang mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogen (penyebab kanker). Inovasi yang dihasilkan mahasiswa asal SMA Negeri 1 Kedungpring Lamongan tersebut adalah Biofoam Engkong (Biodegradable Foam dari Eceng Dondok dan Tepung Singkong).

Inovasi tersebut menggunakan bahan dasar tanaman eceng gondok yang banyak

dijumpai di daerah aliran sungai. Inovasi ciptaan Siti tersebut meraih Juara I dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) kategori Matematika, Sains dan Teknologi, yang diselenggarakan Direktur Direktorat Pembinaan SMA pada 15-20 Oktober 2018, di Semarang.

Siti mengungkapkan, latar belakang dari penelitian tersebut muncul karena

kepedualiannya terhadap lingkungan sekitar. Utamanya, karena banyaknya jumlah sampah dalam bentuk styrofoam di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Selain itu, eceng gondok menjadi tumbuhan yang melimpah ditemui di area sungai.

“Setiap hari 1.571,31 sampah styrofoam yang mengandung bahan pemicu kanker banyak ditemukan di TPA Benowo yang apabila benzena, carsinogen, dan styrene sebagai bahan styrofom terkena panas, akan mengakibatkan terganggunya kesehatan masyarakat,” ungkap Siti.

 

Sumber :

https://danu-aji-s-school.teachable.com/blog/190474/worktoexperts