M Nasir: Klaim BNPT Soal Kampus ‘Radikal’ Adalah Data Lama

M Nasir Klaim BNPT Soal Kampus ‘Radikal’ Adalah Data Lama

M Nasir: Klaim BNPT Soal Kampus ‘Radikal’ Adalah Data Lama

M Nasir Klaim BNPT Soal Kampus ‘Radikal’ Adalah Data Lama
M Nasir Klaim BNPT Soal Kampus ‘Radikal’ Adalah Data Lama

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengakui jika kampus yang terpapar radikalisme memang masih ada. Hanya saja, jumlah sudah amat berkurang dari tahun-tahun sebelumnya.

Nasir mengatakan sebelum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyampaikan larangan paham radikalisme di kampus, dirinya telah memberikan instruksi khusus kepada rektor atau direktur Politeknik.

“Jika ada dosen atau mahasiwa yang terpapar radikalisme segera diselesaikan mereka harus kembali ke NKRI, Pancasila, Ideologi UUD 45 dan Semboyan Bhineka Tunggal Ika. Lah kalau tidak mau ya tinggal pilih, keluar atau gabung,” tegas Nasir di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (31/5).

Diakui Nasir, pihaknya kini sedang menyisir dan bergerak kampus-kampus yang masih terdeteksi menyebarkan paham radikalisme. Namun itu bukanlah hal yang mudah.

Butuh kerjasama dari berbagai pihak untuk menjaring kumpulan tersebut.

“Kepala BNPT menyampaikan tujuh PTN yang terpapar radikalisme itu data lama.

Kami sudah antisipasi di tahun 2011, dan lembaga litbangnya yang lama bukan data baru yang pasti lebih baik. Sekarang kenapa baru terungkap karena tidak terselesaikan dan terbongkar,” jelasnya.

Namun, dengan adanya kabar tersebut menjadi alarm tersendiri untuk pemerintah dan aparat untuk memberantas tindakan terorisme. Dirinya berharap tidak ada lagi radikalisme.

Kalaupun ada, Nasir menegaskan semua pihak hanya butuh menghentikan dan memfilter.

“Kita mesti filtering, di kampus sudah mulai berkurang walau masih ada lah satu

atau dua. Ya, kita lihat berkembangnya dari 1983 di Kampus dan itu sudah 35 tahun, maka kita lihat perubahannya sudah signifikan,” pungkasnya.

Sebelumnya, petinggi BNPT mengklaim jika hampir semua PTN sudah terpapar paham radikalisme. Mulai dari Jakarta hingga ke Jawa Timur.

Kampus-kampus itu di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi

Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

 

Baca Juga :