Jalannya Perlawanan

Jalannya Perlawanan

            Perlawanan dimulai ketika rakyat melakukan protes di Kantor Residen Saparua di dalam Benteng Duurstedee. Mereka menuntut agar pemerintah bersedia membayar perahu Orambai yang dipesan oleh pemerintah Belanda dengan harga yang pantas karena selama ini perahu orambai yang diserahkan kepada pemerintah Belanda tidak pernah dibayar. Residen Saparua Van den Berg menolak tuntutan rakyat itu. Kejadian itu menyebabkan kebencian rakyat Maluku semakin menjadi-jadi.

Akhirnya perlawanan dengan kekerasan senjata terhadap Belanda pun direncanakan. Dalam pertemuan antara para pemimpin rakyat Saparua (berjumlah 100 orang) dibicarakan mengenai rencana perlawanan dan juga dibicarakan mengenai siapa yang akan memimpin, selain itu di dalam rapat tersebut muncul desas-desus bahwa Belanda akan mengenakan wajib militer pada rakyat Maluku untuk ditugaskan ke Jawa, yang mana desas-desus ini menimbulkan perasaan was-was dan semakin menambah kebencian pada Belanda. Dalam rapat itu seorang pria bernama Matulessy tampak mendominasi pertemuan. Mattulessy memiliki nama lengkap ketika lahir adalah Achmat Lussy dan biasa dipanggil Mat Lussy, ketika Maluku dikuasai Inggris Mat Lussy bekerja sebagai anggota tentara kolonial Inggris dan memperoleh pangkat kapten (kapitan). Waktu itu Inggris membentuk Barisan Maluku di mana ada 400 orang Maluku yang bekerja untuk tentara Inggris. Karena begitu akrab dengan orang Inggris dan sangat menyukai kebudayaannya Mat Lussy bahkan berpindah agama menjadi Kristen Protestan Anglikan dan merubah namanya menjadi Thomas Matulessy. Pengalaman di kemiliteran Inggris membuat Mattulessy cukup disegani karena keahliannya menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda, maka para pemimpin adat sepakat untuk mengangkat Mattulessy sebagai pemimpin dengan gelar Pattimura.

            Pattimura menetapkan sasaran adalah Benteng Duurstede. Benteng di tepi pantai itu akan diserang oleh pasukan yang didaratkan dari pantai. Untuk mengangkut pasukan Pattimura merencanakan akan memakai orambai yang sedianya akan dipesan oleh Belanda.

            Benteng Duurstede adalah tempat tinggal residen Saparua Johannes Rudolph Van den Berg yang baru berusia 29 tahun yang sejak 15 Maret 1817 menetap di sana. Ia tinggal bersama istri dan 4 anaknya. Selain keluarga residen, benteng ini juga dijaga oleh ratusan tentara dan pegawai administrasi.

Pada tanggal 15 Mei 1817 terjadi kerusuhan di Porto di mana sebuah perahu pos Belanda dirampas oleh rakyat yang marah, rakyat mengancam jika Pemerintah Belanda tidak bersedia membayar orambai maka perahu pos itu tidak akan dikembalikan berikut isinya.

Residen Van den Berg dengan ditemani 7 pasukan pengawal berangkat ke Porto untuk melakukan dialog dengan rakyat. Tetapi residen dan pengawalnya tidak tahu bahwa rakyat itu adalah pengikut Pattimura. Ketika sampai di daerah Haria, residen dan pengawalnya disergap dan semuanya berhasil ditangkap, beberapa pengawalnya bahkan ada yang terbunuh. Kuda residen dibunuh. Mengetahui residen ditawan oleh rakyat Saparua, maka dari Benteng Duurstede dikirimkan sekelompok pasukan senapan berjumlah 20 orang dan 12 orang Jawa bersenjatakan tombak. Di tengah jalan 32 orang serdadu itu dihujani dengan panah.

Pattimura kemudian membebaskan Van den Berg setelah residen ini mengancam bahwa jika seorang residen ditahan maka pemerintah Belanda di Batavia tidak akan tinggal diam dan pasti akan menghukum seluruh rakyat Maluku. Akhirnya residen dibebaskan dengan jaminan bahwa residen telah menganggap insiden penyanderaan itu selesai dan tidak akan memperpanjangnya selain itu residen berjanji akan melunasi orambai yang dibeli Belanda.

            Sementara itu, setelah membebaskan residen dan pengawalnya Pattimura dan pasukannya segera menuju Benteng Duurstede dengan menaiki orambai-orambai yang berjumlah puluhan.

Pagi hari sebelum matahari terbit orambai-orambai itu sudah sampai di pantai dan ribuan orang segera turun ke darat dan langsung melakukan serangan sporadis ke Benteng Duurstede. Pihak Belanda sangat kaget dengan serangan ini dan berusaha bertahan mati-matian. Tetapi tanpa dinyana dari hutan di belakang benteng juga terjadi serangan dari rakyat. Akhirnya Benteng Duurstede berhasil direbut tanggal 16 Mei 1817, seluruh isi benteng dibunuh termasuk residen dan keluarganya termasuk 4 anaknya yang masih kecil juga jadi korban sabetan kelewang yang tak bermata. Rakyat Maluku yang bekerja untuk Belanda juga menjadi korban. Namun, kemudian diketahui bahwa anak tertua Van den Berg tidak mati karena dia bersembunyi di bawah tumpukan mayat. Dengan jatuhnya Benteng Duurstede maka senjata-senjata yang ada di dalamnya juga ikut dirampas dan semakin menguatkan kedudukan Pattimura. Setelah menduduki benteng, Pattimura menurunkan bendera merah putih biru Belanda dan mengibarkan bendera Union Jack Inggris.

 

https://butikjersey.co.id/scarlett-mysteries-apk/

Author: ixa8f