ALERGI OBAT SANGAT MENYEBALKAN

ALERGI OBAT SANGAT MENYEBALKAN

Waspadai alergi obat. Alergi ini rentan terpicu karena anda lengah dan tidak berhati-hati karena sakit. Temui dokter dikala alergi makin lama parah.

Saya sebal betul dikala rela ikut acara Malam Keakraban atau menginap bersama-sama dikala kuliah dulu. Salah satu pernyataan yang dilontarkan oleh panitia adalah, “Siapa yang punya alergi makanan?”

Tentu saja saya wajib mengacungkan jari selanjutnya menjawab, “Saya. Saya alergi udang.” Begitu saya menjawab begitu, teman-teman bakal melirik saya dengan tatapan kecewa. Saya menyadari begitu kok kalau udang itu enak. Udang, diolah untuk pelengkap nasi goreng, sup, semur, digoreng tepung selanjutnya dicocol sambal, dimasak garang asem, sampai dibakar itu oke semua.

Toh saya dulu mencobanya. Lho, bukankah saya punya alergi udang? Ya betul, saya alergi kalau makan hewan air itu. Tapi, lidah dan hidung saya kadang-kadang lebih berkuasa ketimbang akal sehat. Maka jadilah, bentol-bentol, gatal, panas menyengat di leher itu nampak beriringan. Kalau tidak langsung ditangani, deman dan badan lemas bakal berkunjung belakangan.

Nah, tak hanya alergi makanan, satu lagi alergi yang tidak boleh anda remehkan adalah alergi obat. Ini jauh lebih menjengkelkan karena alergi obat bakal berkunjung dikala lengah dan lemah. Orang bakal jauh lebih mengingat alergi makanan ketimbang alergi obat. Kenapa dapat begitu?

Saya rela cerita saja. Beberapa malam yang lalu, saya terbangun dengan gigi ngilu. Obat yang saya beli teringgal di kantor. Ketika mengaduk-aduk kotak obat di rumah, saya menemukan mefinal. Membaca info lewat mesin pencari, saya menemukan kalau mefinal dapat meredakan nyeri, tidak benar satunya karena sakit gigi.

Tanpa pikir panjang, saya tenggak obat berwarna merah jambu itu. Beberapa menit kemudian sakit gigi benar-benar hilang dan saya dapat makan dengan lahap. Tengah malam makan? Iya-iya, dapat bikin gemuk. Namun, tahukah kamu, makan sedang malam adalah “obat tidur” yang ampuh. Lebih sehat ketimbang obat tidur kimiawi yang anda beli di apotek.

Beberapa jam kemudian, saya terbangun lagi dengan gatal dan panas jadi di leher. Saya kira leher saya dicipok oleh serangga. Ternyata, nampak bentolan yang lumayan besar di sana. Panik, saya raba seluruh leher dan wajah. Ternyata bentol, ruam, dan rasa yang panas itu termasuk jadi di wajah, khususnya di sekitar mata. Alergi obat! Sontak saya berteriak di di dalam hati.

Sampai pagi saya tidak dapat tidur lagi. Setelah saya baca info di bungkus obat, ternyata mefinal memiliki kandungan yang namanya asam mefenamat. Nah, tak hanya alergi udang, saya termasuk alergo obat yang memiliki kandungan asam mefenamat. Bahkan, kalau makan atau minum suatu hal yang terlalu asam, leher saya langsung gatal-gatal, walau tidak separah kalau konsumsi asam mefenamat.

Gatal, ruam, panas, dan badan lemas itu bertahan sampai dua hari kemudian. Obat berwujud salep dan pereda alergi saya minum secara rutin. Satu perihal yang saya ingat betul, adalah mutlak bagi anda seluruh untuk mengingat–mencatat kalau perlu–perihal alergi obat. Ketika sakit dan panik, kami condong lengah dan tidak waspada. Demi cepat sembuh, asal ada obat, bakal langsung anda tenggak tanpa membaca peringatan dan efek sampingnya.

Nah, sebetulnya, alergi obat itu apa, sih? Alergi obat adalah reaksi berlebihan berasal dari proses kekebalan tubuh terhadap suatu obat. Muncul karena proses kekebalan tubuh berasumsi zat khusus di dalam obat sebagai substansi yang membahayakan tubuh. Kondisi ini berbeda dengan efek samping obat yang umumnya tercantum terhadap kemasan, maupun keracunan obat akibat berlebihan dosis.

Reaksi alergi obat nampak secara bertahap sejalan proses kekebalan tubuh yang membangun antibodi. Pada langkah pemakaian pertama, proses kekebalan tubuh bakal menilai obat sebagai substansi berbahaya. Pada pemakaian berikutnya, antibodi mendeteksi dan menyerang substansi obat. Proses inilah yang dapat memicu gejala alergi.

Sebagian besar alergi obat punya gejala yang mudah dan reda di dalam lebih dari satu hari setelah pemakaian obat dihentikan. Gejala alergi obat antara lain, ruam, gatal, hidung beringus, batuk-batuk, demam, sesak napas, mata berair, dan pembengkakan. Celakanya, gejala yang nampak di saya adalah gatal dan pembengkakan. Muka udah seperti dijotos lebih dari satu orang, membengkak!

Penanganan alergi ini adalah dengan berhenti konsumsi obat yang memicu alergi. Konsumsi antihistamin mungkin disarankan untuk menahan reaksi proses imun yang diaktifkan oleh tubuh saat terjadi reaksi alergi. Sementara itu, kortikosteroid dapat digunakan untuk menangani peradangan akibat reaksi alergi yang lebih serius.

Bagi yang dulu alergi berat, dokter umumnya bakal meresepkan suntikan epinefrin. Bagi penderita dengan riwayat alergi yang berat, menyediakan tetap epipen, yakni epinefrin di dalam bentuk suntikan sekali pakai. Kalau udah parah, sebaiknya meniti perawatan di rumah sakit agar dapat meraih pertolongan pernapasan dan penstabilan tekanan darah.

Nah, untuk menyadari anda alergi apa, jangan coba-coba beragam obat ya. Selalu konsultasikan dengan dokter.

Percaya saya, alergi obat itu menjengkelkan sekali. Kamu menjadi malas nampak rumah, tidak dapat bekerja karena lemas. Sebuah perasaan yang mirip identik dikala tanggal tua menjelang. Menipisnya uang di dompet dan ATM itu ampuh kurangi impuls untuk ngapa-ngapain. Orang menyebutnya sebagai “alergi tanggal tua”.

Sumber : https://penjaskes.co.id/

Baca Juga :