Akhir Perlawanan

Table of Contents

Akhir Perlawanan

            Kini Belanda di atas angin, dan Pattimura makin terdesak dan terpaksa harus melawan secara gerilya. Usaha pembersihan kemudian dilakukan Belanda untuk meredam terulangnya kembali pemberontakan dan yang paling utama adalah menangkap Pattimura.

            Usaha Belanda menangkap Pattimura terus menerus mengalami kegagalan dan akhirnya Pattimura ditangkap di sebuah rumah di daerah SiriSori.Pattimura dapat ditangkap karena pengkhianatan salah satu anak buahnya. Karena Pattimura bukanlah raja maka dia diperlakukan seperti tawanan perang rendahan. Tertangkapnya Pattimura ini tidak membuat surut perlawanan Maluku. Raja Manusama Paulus Tiahahu dari Abobu, Nusa Laut terus melakukan pemberontakan dengan cara membajak kapal-kapal Belanda.

            Untuk menumpas pemberontakan Belanda bertindak sangat kejam dalam menghukum daerah yang dicurigai sebagai sarang pemberontak. Rumah-rumah dibakar. Orang-orang Ternate dan Tidore yang membantu Belanda diijinkan untuk merampok dan merampas desa-desa di Saparua.

            Raja Abobu Manusama Paulus Tiahahu akhirnya berhasil ditangkap beserta putrinya Christina Martha Tiahahu yang masih kecil (kurang lebih 17 tahun). Komodor VarHuell diperintahkan memimpin kapal perang Evertzen ke Nusa Laut. Sesampainya di Nusa Laut Evertzen mendapat penumpang istimewa yaitu Paulus Tiahahu dan anaknya Christina Martha Di pantai telah berkumpul rakyat Nusa Laut. Kemudian raja digiring ke geladak kapal dan ditembak di depan anaknya dan disaksikan oleh rakyatnya dari pantai. Akhirnya karena masih kecil, Christina Martha dibebaskan. Tetapi Christina malah meneruskan perlawanan bapaknya. Sampai akhirnya ia kembali tertangkap bersama 39 orang sisa pengikutnya. Akhirnya 40 orang tahanan itu dibawa ke Batavia dengan kapal Evertzen-kapal tempat ayah Christina dihukum mati-. Di tengah perjalanan Christina tidak mau makan, sampai akhirnya ia mati kelaparan. Pada tanggal 1 Januari 1818 jenasah Christina dibuang ke laut.

            Pada tanggal 16 Desember 1817, para pemimpin perlawanan Maluku dihukum gantung di Benteng Nieuw Victoria di tepi pantai Ambon. Mereka adalah Pattimura, Anthoni Ribok, Philip Latumahina, dan Said Parintah. Anak Residen Van den Berg yang telah dikembalikan kepada Belanda diharuskan menyaksikan hukuman ini. Upacara eksekusi ini cukup megah karena dimeriahkan dengan formasi kapal perang Belanda dan kora-kora Ternate dan Tidore, salvo meriam dan marching band. Kemudian paduan suara gereja menyanyikan lagu-lagu rohani. Kemudian seorang tentara berpangkat kapten membacakan keslaahan-kesalahan Pattimura dan kawan-kawan untuk kemudian membacakan keputusan vonis mati dengan digantung. Sebelum digantung Pattimura mengucapkan sebuah kata-kata yang terkenal. ”Pattimura-Pattimura tua boleh mati tetapi Pattimura-Pattimura muda akan bangkit kembali dan melawan.” Akhirnya matilah Pattimura dan kawan-kawan. Jenasah-jenasah para pemberontak ini dibiarkan bergantung di muka umum sampai membusuk.

            Jean Lubbert-anak Van den Berg-, memohon kepada Pemerintah Belanda agar ia diizinkan melengkapi namanya menjadi Van den Berg Van Saparua untuk mengenang Pattimura. Perlawanan rakyat Maluku berhenti setelah banyak pemimpin yang tertangkap atau terbunuh.

BAB III

PENUTUP

            3.1 Kesimpulan

            Akhirnya pada tahun 1821 perlawanan Maluku dapat dikatakan berakhir. Perlawanan Maluku terjadi lagi pada tahun 1858, 1860, 1864, dan 1866 walaupun tidak seheroik pertempuran 1817. Meskipun Pattimura telah gugur, namun semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan yang beliau miliki masih melekat pada Rakyat Maluku. Semangat tersebut terus mereka bawa dan tidak akan pernah padam untuk menembus segala rintangan demi satu tujuan yang mulia yaitu merdeka. Tepat seperti kata – kata terakhir beliau yang mengatakan ”Pattimura-Pattimura tua boleh mati tetapi Pattimura-Pattimura muda akan bangkit kembali dan melawan.” Hingga akhirnya seluruh perjuangan mereka terbayarkan dengan terusirnya penjajah dari tanah Indonesia pada tahun 1945.

            Namanya kini diabadikan untuk Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura di Ambon.

            3.2 Saran

            Semoga dengan dibuatnya makalah ini, kita bisa mengetahui bagaimana susahnya pejuang Indonesia zaman dahulu merebut NKRI, dari bertaruh harta maupun nyawa. Janganlah melupakan jasa pahlawan yang telah gugur dalam membela Indonesia. Hargailah jasa – jasa mereka karena berkat mereka, kita bisa menikmati kebebasan yang telah direbut oleh penjajah. Setidaknya, apabila tidak bisa membuat negara Indonesia menjadi baik maka jangan merusaknya. Selain itu, semoga kita bisa mengambil nilai-nilai luhur dari mereka.

Author: ixa8f